Pertumbuhan Ekonomi Kota Cirebon Ditopang Empat Sektor Utama

CIREBON – Sejalan dengan stabilitas perekonomian nasional, perekonomian Jawa Barat dan Ciayumajakuning juga terjaga baik. Laju pertumbuhan ekonomi Jawa Barat pada tahun 2019 diperkirakan sebesar 5,42 persen. Angka tersebut masih tetap tinggi, namun tak setinggi tahun 2018.

Sementara, pertumbuhan ekonomi 2019 di Ciayumajakuning berada di kisaran 4,2 persen (yoy), meningkat dibanding tahun 2018 yang tercapai 3,9 persen.

Menurut Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KpwBI) Cirebon, Fadhil Nugroho, pertumbuhan ekonomi di Ciayumajakuning terutama didorong oleh sektor konsumsi.

“Sementara itu struktur perekonomian untuk Kota Cirebon sendiri 5 tahun terakhir masih didominasi oleh 4 sektor, yaitu sektor perdagangan besar dan eceran, sektor jasa keuangan dan asuransi, sektor kontruksi, sektor transportasi dan pergudangan,” kata Fadhil dalam sambutan Pertemuan Tahunan Bank Indonesia yang digelar di Ballroom Luxton Cirebon, Selasa (17/12).

Pertemuan tahunan merupakan agenda rutin yang digelar KpwBI Cirebon dengan mengudang responden dunia usaha, akademisi, pemerintah daerah dan para stakeholder se Ciayumajakuning. Pada tahun ini, Pertemuan Tahunan BI Cirebon mengangkat tema “Bersinergi untuk Memperkuat Ketahanan dan Mendorong Pertumbuhan Ekonomi”.

Tema ini, kata Fadhil Nugroho, dipilih karena dipandang sangat penting untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang kuat dan berkelanjutan dengan berbasis sinergi dan kolaborasi.

Dalam pertemuan tahunan ini, tak hanya perkembangan perekonomian global dan nasional, tetapi juga menyampaikan perkembangan perekonomian terkini Ciayumajakuning. Selain itu, kinerja perbankan hingga perkembangan inflasi tahun 2019, semuanya dipaparkan lengkap oleh Kepala BI Cirebon, Fadhil Nugroho.

Dari sisi PDRB Ciayumajakuning tahun 2018, disebutkan, Kabupaten Indramayu masih merupakan wilayah dengan share PDRB tertinggi dengan pangsa sebesar 41 persen. Sementara laju pertumbuhan ekonomian tertinggi hingga saat ini masih dipegang oleh Kabupaten Kuningan sebesar 6,43 persen.

Kemudian dari sisi perdagangan luar negeri, ekspor di Ciayumajakuning masih menunjukan kinerja yang positif. Begitu juga pencapaian inflasi sepanjang tahun 2019, masih tetap terjaga, bahkan berada dibawah inflasi nasional maupun Jawa Barat.

“Hingga bulan November secara akumulatif inflasi Kota Cirebon baru mencapai 1,55 persen. Sementara secara tahunan tercatat sebesar 2,14 persen. Tentu ini semua berkat kerja keras Tim Pengendalian Inflasi Daerah di Kota Cirebon,” sebut Fadhil.

Intermediasi perbankan juga terus menunjukan kinerja positif. Hal ini tercermin dari pertumbuhan kredit pada Oktober 2019 yang mencapai 8,66 persen dengan tingkat Non Performing Loan (NPL) yang masih berada pada level 2,17 persen. Sementara itu, penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) terpantau meningkat dengan pertumbuhan sebesar 9,37 persen.

“Penghimpunan dana di wilayah Ciayumajakuning hingga bulan Oktober tercatat sebesar Rp33,5 triliun. Jumlah ini meningkat dibanding periode yang sama tahun lalu sebesar Rp30,6 triliun,” jelas Fadhil

Dari sisi penyaluran kredit, Fadhil menyampaikan, kredit yang disalurkan di wilayah Ciayumajakuning hingga bulan Oktober 2019 mencapai Rp38,6 triliun dengan jumlah kredit tertinggi terdapat pada sektor perdagangan, hotel dan restoran, serta industri.

“Sebanyak 51,8 persen peruntukan kredit di Ciayumajakuning digunakan masih untuk pembiayaan konsumsi. Sisanya sebagai modal kerja dan juga untuk investasi,” jelasnya.

Sementara itu penghimpunan dana masyarakat oleh perbankan dan penyaluran kredit tertinggi masih terjadi di Kota Cirebon. Sedangkan DPK dan penyaluran kredit terendah terjadi di Kabupaten Cirebon. (CM-01)